Kimia Farma Bangun Sistem Track and Trace

  December 14, 2017     Reza Marta Fawzy     Berita

Kimia Farma Bangun Sistem Track and Trace

Jakarta, (11/12/2017) - IMPG Indonesia memproyeksikan bahwa peredaran obat palsu mencapai 15-20% dari total farmasi nasional. Hal ini mendorong Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk membangun sistem pengawasan obat dan makanan berbasis digital, yaitu track & trace.

Baca Juga: Kimia Farma Bebas Dari Vaksin dan Obat Palsu

“Track & trace ini merupakan upaya, tujuan kita untuk menghadapi authenticity. Artinya, untuk menghadapi kalau ada yang (obat dan makanan) palsu. Kemarin masalah vaksin palsu yang ada di Indonesia, itu sudah diketahui banyak pihak, dan Indonesia termasuk yang dihargai di forum internasional karena kita melaporkan (kejadian tersebut),” tutur Kepala BPOM, Penny Kusumastuti Lukito, dalam sambutannya di acara Konsultasi Publik Sistem Pengawasan Obat dan Makanan Berbasis Digital di Jakarta, Senin 11 Desember 2017.

Sejalan dengan program BPOM, PT Kimia Farma (Persero) Tbk berkomitmen mengembangkan sistem track & trace. Ini merupakan bagian dari program digitalisasi yang dikembangkan Kimia Farma. Direktur Utama Kimia Farma, Honesti Basyir, menyampaikan tekad Kimia Farma dalam implementasi aplikasi track & trace terhadap lebih dari 400 produk.

“Digitalisasi sudah merupakan strategi utama kami untuk ke depan. Karena seperti kita ketahui, tidak ada satupun industri sekarang yang bisa menghindarkan dirinya dari digitalisasi. Digitalisasi merupakan suatu keniscayaan. Hampir semua industri, hampir semua perusahaan sekarang, mereka mencoba membuat strategi bagaimana cara agar bisa beradaptasi dengan ekonomi global yang dikembangkan oleh digital ekonomi,” tegas Honesti Basyir di hadapan pelaku industri farmasi, Pedagang Besar Farmasi, dan asosiasi perusahaan farmasi.

Implementasi track & trace Kimia Farma bersifat end-to-end mulai dari Plant, distribusi, hingga retail.

Baca Juga: Apotek Kimia Farma Kembali Meraih ICSA (Indonesia Customes Satisfaction Award)

Pemanfaatan teknologi informasi track & trace nantinya mampu melindungi masyarakat dari resiko obat palsu dan penyalahgunaan obat yang selama ini dihadapi. Pelaku usaha juga dapat memperoleh manfaat dari sistem yang akan melindungi produk obat yang dihasilkannya dari pemalsuan.

BPOM menetapkan dua BUMN farmasi, Kimia Farma dan Biofarma, untuk menjadi pilot project program ini dengan harapan sistem ini segera dibangun seiring dengan penetapan regulasi yang sedang dilakukan.

Selain memperkuat aspek deteksi kategori produk di bawah standard dan palsu, aplikasi track & trace diharapkan bisa membangun sistem yang dapat melayani, melindungi serta mengedukasi masyarakat terkait peredaran obat.

Kimia Farma selalu berkomitmen untuk memberikan pelayanan dan solusi kesehatan yang terbaik bagi masyarakat. Apabila ada hal-hal yang ingin dikonsultasikan dan ditanyakan, bisa menghubungi contact center “Kimia Farma Care” di nomor 1-500- 255 , dari Senin – Minggu pukul 07.00 – 21.00 WIB (pulsa lokal) atau Facebook/KimiaFarmaCare dan Twitter @kimiafarmacare.. Dalam contact center tersebut, masyarakat dapat memperoleh berbagai informasi yang diperlukan, baik konsultasi obat secara langsung dengan Apoteker, lokasi apotek Kimia Farma terdekat dan informasi lainnya.

Corporate Secretary
PT Kimia Farma (Persero) Tbk

Tag-tag:  KonsultasiPublikKimiaFarmaTrackAndTraceBPOM

Bagikan

Berikan Pendapat Anda

comments powered by Disqus

Berlangganan

Dapatkan berita terbaru dari Kimia Farma Apotek di inbox anda.

Klik untuk Berlangganan

Baca Juga